Fiksi

Hantu di Kota Aizuwakamatsu

Terdengar ketukan halus di pintu, perlahan. Sekali. Dua kali. Terus-menerus, mengganggu tidur Iyo.

“Permisi….” Suara lembut berbisik, lebih terdengar seperti lesir angin yang menggemerisikkan ranting dan dedaunan.

Berat di pelupuk mata memaksa wanita itu untuk tetap terlelap, tidak ingin mengindahkan ketukan di pintu. Hawa dingin malam itu menggigit, menjaganya terus berbaring dalam futon yang hangat. Persetan ketukan itu.

“Permisi, Iyo-san, Iyo-sann….”

Iyo terbangun. Matanya nanar menatap langit-langit kamar yang gelap, tengah malam. Bisikan lembut itu terdengar dekat, terasa dekat, seakan Iyo bisa merasakan napas dingin itu di telinganya. Bisikan seorang wanita.

Iyo menoleh, mencari tubuh pria yang tidur di sampingnya, suami yang menurunkan marga Iyo kepadanya. Suaminya mendengkur, tidak terusik. Sementara wanita di depan pintu berbisik semakin keras, dengan ketukan yang semakin jelas.

“Permisi, Iyo-saann….”

Iyo duduk dengan napas tertahan. Berhati-hati, ia merayap mendekati jendela, membukanya perlahan. Dari celah sempit, ia melihat kegelapan malam. Secercah sinar melejit di angkasa, kilat menyambar, sekelebat menerangi halaman rumah. Sekejap saja, Iyo melihat seorang wanita di luar pintu rumahnya. Kimono putihnya terang di bawah kilat, kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Kilat menyambar lagi Rambut panjang wanita itu jatuh terurai menutupi wajahnya dari samping. Menoleh.

Terkejut, Iyo menutup jendelanya. Guntur menggelegar. Bayangan akan roh wanita di bawah siraman cahaya kilat melekat dalam benak Iyo. Hanya sekejap saja, Iyo melihat sorot mata yang dingin tak bernyawa.

Ketukan di pintu semakin kuat. Daun pintu mulai berderak di setiap ketukannya.

“Permissiii…. Iyoo…. Iyo-sssann…,” desis wanita di luar, masih mengetuk teratur.

Iyo menarik napas, menenangkan degup jantungnya yang memburu, lantas berteriak, “Siapa kau? Apa maumu?!”

Sang suami terbangun, dikejutkan teriakan istrinya. Dalam gelap, ia mendapati istrinya yang tengah merangkak. “Ada apa? Sayang, kau sedang apa?”

Tidak perlu dijelaskan, sang suami sudah mendengarnya sendiri. Ketukan monoton dan bisikan hantu itu kini bercampur suara gerimis yang mulai turun, mengenai tanah, atap jerami, dan kayu dinding rumah. Labrakan Iyo tak terjawab. Hanya panggilan, “Iyo-san, Iyo-san,” berulang-ulang.

Sang istri bangkit dan menggeser pintu kamar, keluar. Samar terlihat dalam ruangan gelap, sebuah kotak kayu berpelitur ada di tangannya. Sang suami mengikutinya dari belakang.

Lorong yang gelap dan dingin mengundang ngeri. Buru roma suami-istri Iyo itu berdiri. Mengambil lentera dari dapur, mereka berjalan menuju pintu depan. Lentera yang menerangi membuka jalan melintasi kegelapan pekat di lorong. Gerimis hujan dan gelegar petir sama sekali tidak membantu. Tapi agaknya, bisikan hantu itu tidak memudar karena tertutup bising cuaca.

Semakin mendekat, suara itu semakin jelas. Sang istri membuka kotak kayu itu, mengambil secarik kertas berukir tinta, mengigitnya. Kotak itu dititipkan ke suaminya yang berjalan di belakangnya, kebingungan. Kini tangannya bebas, ia membentuk simbol-simbol dengan tangannya seraya merapal mantra.

Berhadapan dengan pintu kayu rumahnya yang kokoh, suara itu semakin jelas. Ketukan-ketukannya terdengar nyaring menggema di ruang depan yang kosong.

“Iyo-sann… Iyo… Iyoo?” Bisikan itu berhenti. Hening. Suami-istri Iyo menajamkan telinga dengan napas tertahan. Lentera dalam genggaman sang suami diangkat tinggi-tinggi.

“Iyo-san, kau di sana?”

Napas suami istri itu tercekat, seperti ada yang menahannya keluar. Jantung mereka terlewat satu degupan. Dengan kesal, sang istri menyambar kertas jimat di mulutnya, menggeser pintu dengan kasar. Air hujan tampias ke dalam.

Mereka melihatnya di bawah pendar cahaya lentera. Mata yang kosong dan berkabut itu menatap balik, masih memanggil dengan suara lirih. Lengan yang pucat bergerak. Mengetuk pintu yang tak lagi ada di sana. Terus bergerak masuk, menggapai, meraih. Menyentuh.

Istri Iyo mundur selangkah. Dengan tangan gemetar, ia melempar kertas jimat itu ke arah roh wanita yang menatapnya dengan sorot mata dingin. “Roh jahat, pergilah!” serunya dengan suara bergetar.

Kertas itu terbakar, habis menjadi abu di udara. Dan bersama asap yang hilang ditelan hujan, roh wanita itu tidak terlihat lagi. Hanya tersisa hujan dan kegelapan di luar sana.

Suami istri itu terduduk, menghela napas. Mereka menutup pintu, menguncinya, dan kembali tidur berangkulan, dininabobokan deru hujan dan gemerisik pepohonan. Mereka sama-sama tidak menyadari pakaian tidur mereka separuh basah terkena cipratan hujan.


“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Apa?” tanya Istri Iyo, bingung dengan pertanyaan suaminya yang begitu tiba-tiba. Sinar matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah di jendela sedikit menyilaukannya.

“Kau tahu, jimat ofuda di dalam kotak kayu semalam,” kata Suami Iyo, menunjukkan sumpitnya ke arah kamar tidur, tempat kotak kayu itu diletakkan. “Dan aku baru tahu kau bisa mengusir hantu.”

“Ooh,” gumam Istri Iyo, melanjutkan menyuap nasi ke mulutnya dengan sumpit. “Aku mendapatnya dari pendeta di kuil dekat sini, sekaligus aku berguru pengusiran hantu darinya. Buat berjaga-jaga seandainya hal seperti kemarin terjadi,” tuturnya di sela-sela mengunyah.

Sang suami mengangguk-angguk, meletakkan mangkuk nasinya yang sudah kosong. Ia beringsut berdiri.

“Sayang, kau mau berangkat sekarang?” tanya istrinya, buru-buru menghabiskan makanannya, lalu ikut berdiri menyusul suaminya. “Barang dagangannya sudah?”

“Sudah, ada di luar. Aku sudah kesiangan,” ujar Suami Iyo seraya berjalan menuju pintu. Ia berbaik badan, menatap istrinya, pamit, “Aku berangkat dulu. Kau berhati-hatilah di rumah. Kuharap hantu itu tidak kembali.”

Istri Iyo tersenyum, mengangguk, melambai kepada suaminya. “Hati-hati di jalan.”

Sang istri menunggu di pintu sampai suaminya hilang dari pandangan. Jalanan di depan rumah lengang. Rumah-rumah kayu berderet di sepanjang jalan. Di kejauhan, puncak Istana Tsuruga berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi.

Angin musim gugur bertiup kencang. Istri Iyo menggigil kedinginan, kembali masuk ke dalam rumah.


Seperti biasa, dalam cerita hantu, harapan tokoh utama tidak terkabul. Karena tengah malam berikutnya, hantu wanita itu kembali datang.

“Permisssiii ,” bisiknya lagi. Suara itu datang dari dapur, berasal dari perapian yang menyala di tengah kegelapan dalam rumah Iyo.

“Iyo-saaan,” panggilnya. Suaranya beradu dengan gemeretak kayu bakar yang dilalap api. Asap dari perapian melambung, memenuhi ruangan, menyebar ke penjuru rumah.

Suami Iyo terbangun karena mencium bau hangus. Begitu membuka mata, pandangannya kabur karena asap. Ia panik, membangunkan istrinya, yang juga ikut panik.

“Kebakaran!” seru mereka.

Sang suami segera membuka pintu kamar. Sekonyong-konyong, asap tebal menghambur masuk. Suami-istri Iyo terbatuk-batuk. Tenggorokan mereka seperti tercekik.

“Iyo….” Bisikan itu menjalar melalui asap, mendesis di telinga Istri Iyo.

“Sayang, kau mendengarnya?” tanyanya, dengan suara tercekat. Suaminya mengangguk, menunjuk ke dapur yang pintunya terbuka, memancarkan cahaya dari perapian yang berpendar dalam kepulan asap. Ia melangkah mendekat sambil menutup mulutnya dengan lengan kimononya yang lebar.

“Iyo-sann….” Suara hantu itu semakin dekat.

Suami Iyo mencapai mulut pintu. Ia bisa melihat siluet cahaya api di perapian yang berkobar hebat. Api itu amat besar, tetapi–dengan ajaibnya–tidak membakar sekitarnya. Api itu bercahaya, dengan bayangan gelap berkelebatan di dalamnya. Membesar, mendekat.

“Iyoooo…….” Gemetar suara itu terdengar seiring pergerakan lidah api merliuk liar.

Tangan halus menyentuh pundak Suami Iyo. Ia tersentak, menoleh, mendapati istrinya dengan ofuda dalam gigitannya. Istrinya mengangguk, mengisyaratkan, “Aku saja yang mengatasinya.”

Suami Iyo tersenyum, balik mengangguk, melangkah mundur. Ia sadar istrinya lebih bisa diandalkan dibanding dirinya.

Menatap tegas hantu di perapian, sang istri merapal mantra dan menyelesaikan gerakan-gerakan simbol tangannya. Hantu wanita itu semakin mendekat, melihat kedatangan sang istri. Lengannya direntangkan jauh-jauh, ingin menggapai Istri Iyo. “Iiiyyyooooo-sssaan….”

Rambut hitam panjangnya bergerak menyebar, mengerungkung pasangan suami-istri itu dalam keremangan.

“Roh jahat, enyah dari sini!” perintahnya, melempar ofuda ke muka hantu itu.

Sosoknya pudar seketika, laksana asap yang habis tertiup angin. Kepulan asap dari perapian cepat bubar secepat datangnya.

Perapian di dapur tinggal menyisakan bara merah menyala di kayu yang telah menjadi arang. Tidak ada tanda-tanda bahwa pernah ada kobaran api yang membumbung tinggi dari sana. Cahaya hanya berasal dari lentera di dinding dapur dan terang bulan yang menyorot masuk melalui jendela yang terbuka.

Kedua Iyo berdiri berpelukan di pintu dapur, masih terguncang.

“Apa yang dia inginkan, mengganggu kita dua hari berturut-turut?” keluh sang suami.

Yurei–roh orang mati–tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan,” gumam Istri Iyo, membenamkan wajahnya ke bahu suaminya.

“Tapi kita bahkan tidak tahu siapa dia! Apalagi apa yang dia inginkan,” geram Suami Iyo, menepuk-nepuk kepala istrinya, menenangkan. “Untuk malam ini, kau berhasil mengusirnya lagi. Sayangku memang hebat. “

Istrinya bergeming dalam rangkulan. Sang suami menghela napas, berkata, “Kita tidur dulu. Hal ini kita bahas besok saja.”

Disambut anggukan pelan dari istrinya, Suami Iyo menuntun istrinya kembali ke kamar, tidak melupakan kotak kayu mereka yang kini menjadi amat berharga.


Sia-sia. Perbincangan mereka tidak menghasilkan jalan keluar. Buntu. Pasangan itu tidak bisa menerka-nerka keinginan sang hantu, sama-sama tidak mengingat apakah pernah bertemu wanita itu. Lantas bagaimana mereka mau mengusirnya kalau tidak bisa tahu keinginannya? Seperti yang semua orang ketahui, yurei tidak akan berhenti sebelum mendapatkan keinginannya. Benar-benar tidak akan berhenti. Hingga sang suami kembali pulang dari berdagang dan malam kembali menjelang, tetap tidak ada jawaban.

Malam ketiga, hantu itu kembali datang, muncul di halaman. Ia berkeliaran tak tentu arah, membawa lonceng lengkap dengan alunya yang terbuat dari kayu. Sembari memanggil-manggil, “Iyo-saann….”

Tapi itu bukan pertama kalinya suami-istri Iyo menghadapi hantu ini. Sang istri telah siap, ia justru menunggunya datang.

Menghambur ke halaman yang gelap, Istri Iyo dan lenteranya menarik perhatian hantu itu. Istri Iyo melihat roh wanita itu lebih jelas dari hari-hari sebelumnya. Wajahnya sayu dengan mata kosong. Rambut hitamnya yang panjang masih terurai–sama dengan hari-hari sebelumnya. Dalam genggaman tangan pucatnya, sebuah lonceng warna emas dan alu kayu beradu. Suaranya menggema, bersama gema dari bisikannya. Ia tidak berkaki. Ekor kimono putih lusuhnya terseret saat ia melayang menuju Istri Iyo.

“Iyo-ssaann, Iyyooo-sssaaannn…,” desisnya.

Lonceng itu terus berbunyi, menggetarkan udara di sekitar Iyo. Di tengah gelapnya halaman, hanya ada Istri Iyo, sang yurei, dan suara lonceng itu. Roh wanita itu merapatkan jarak, semakin dekat.

“Iyooooo….” Terasa napas orang mati di depan hidung Istri Iyo. Sementara sang istri hanya terpekur di tempat.

Ada apa? Kenapa ia diam saja?

Sebuah tangan menarik Iyo kasar dari belakang. Ia terjatuh, menghempas di tanah, tersadar dari lamunannya. Ia terhipnotis! Suara lonceng itu!

Sang suami yang masih memegang bahu istrinya membantunya berdiri, menyerahkan ofuda yang tadi ikut terjatuh. “Jangan gegabah.” Ia memperingatkan.

Tanpa menoleh balik, sang istri memantapkan kuda-kudanya, menantang hantu itu. Dengan cepat, ia melakukan ritual pengusiran hantu.

Hantu itu menghilang–hanya untuk datang keesokan harinya di tempat yang sama. Kembali memukul-pukul lonceng dengan alunya. Setiap kalinya, suami-istri Iyo mengusirnya dengan cara yang sama. Dan setiap kali itu juga, tenaga sang istri terkuras–begitu pula dengan pikirannya, terbebani.

Empat hari berturut-turut, hantu itu datang. Istri Iyo muak.

“Persetan! Aku tidak kuat lagi! Kau cari rumah baru. Aku ingin pindah dari sini!” geramnya di pagi harinya. Wajahnya berkantung mata karena bergadang setiap hari. Sudah enam hari sejak hantu itu pertama muncul mengganggu mereka.

“Aku akan mencarikan rumah, tetapi, mungkin, akan sedikit memakan waktu. Bersabarlah sejenak.” Sang suami meleraikan hati istrinya.

Sang istri menghela napas berat. Gurat kelelahan jelas tergambar di wajahnya dan wajah suaminya. Ia mengangguk lesu.

“Untuk sementara ini, mungkin kau ingin ke kuil?” tanya Suami Iyo.

“Kuil?”

“Mintalah pertolongan para dewa. Mungkin ada yang akan mendengar. Kurasa aku bisa menemanimu hari ini.” Ia menepuk bahu istrinya yang tersenyum, terhibur.

Sang istri menggeleng. “Kau pergi bekerja saja, sekaligus mencari tempat pindahan.”

Mereka sepakat dan sang istri berangkat ke kuil sendirian. Setelah berpamitan, keduanya berpisah.

Menyampirkan keranjang di lengannya, sang istri berjalan ke kuil. Angin musim gugur yang bertiup, dingin, memainkan anak rambutnya yang lolos dari sanggul. Istri Iyo mendekap kimono tebalnya, agak kedinginan. Dedaunan yang berserakan melayang tertiup angin, melambung ke angkasa.

Gerbang kuil berdiri megah, menyambut. Istri Iyo melangkah masuk. Para miko berlalu-lalang ke sana ke mari dengan kesibukan masing-masing.

Berjalan ke tempat pemujaan, Iyo menyiapkan koin logam 500 yen, melemparnya ke kotak sesembahan, lalu membunyikan lonceng yang digantung di atasnya. Iyo menepuk tangan dua kali, lantas berdoa.

“Wahai dewa, roh-roh penjaga, siapapun, tolonglah. Aku meminta perlindungan dari gangguan yurei yang menghantuiku. Kumohon, kepada siapapun yang mendengarku, kabulkanlah…,” pintanya dalam hati.

Semilir angin yang singgah menggoyangkan lonceng perlahan, berbunyi merdu. Iyo membuka matanya. Anak rambut yang semakin rusuh mengganggu pandangan disampirkannya ke belakang telinganya.

Saat berniat akan pulang, seseorang mendatanginya. Seorang pria berpakaian kariginu biru gelap dengan eboshi di kepalanya.

“Mayu-san, lama tidak berjumpa,” sapa sang pendeta kuil.

Istri Iyo tersenyum. “Fujihara-sensei. Apa kabar?”

“Baik, baik. Kau sendiri?” tanya pendeta itu.

Istri Iyo tertawa sedih, lalu menceritakan ceritanya, tentang yurei yang mendatanginya setiap malam.

Sang pendeta tersenyum, mengangguk-angguk. “Itu merepotkan sekali,” tanggapnya.

“Jadi, apakah–“

“Aku tidak bisa membantumu,” tawa pendeta itu.

Istri Iyo cemberut, merunduk, pamit.

“Hati-hati di jalan, Mayu-san. Kuharap para dewa memberikan pertolongan,” ujar sang pendeta. Istri Iyo pura-pura tidak mendengar, tetapi dalam hati tetap mengamini.


“Tidur, Sayang. Kalau kau tunggu yurei itu, tidurmu akan lebih sedikit lagi. Coba kau lihat sendiri, wajahmu jadi seperti nenek-nenek,” ucap Suami Iyo.

Istrinya melotot sebal, mencubit pelan suaminya, tapi tetap menurut. Ia meletakkan kotak kayunya di sisi futon dan berbaring. Setelah kurang tidur beberapa hari, tidurnya amat nyenyak. Bahkan kalaupun yurei itu datang, mungkin ia tidak akan terbangun.

Memang, malam itu tenang. Arwah wanita itu tidak datang lagi. Doa sang istri didengar. Setelah berkeliling dari kuil ke kuil, tidak bisa ditebak siapa yang mengabulkannya.


“Masih ingin pindah?” tanya Suami Iyo sebelum berangkat. Ia harus tahu apakah masih perlu mencari rumah baru.

Sang istri menggeleng. “Sepertinya akan baik-baik saja.”

Tetapi malam itu, entah bagaimana, hantu itu kembali. Saat pasangan itu merasa aman, ia justru datang lagi. Lagi-lagi, ia datang menghantui di tengah malam, saat pasangan suami-istri itu tidur lelap.

Rumah keluarga Iyo gelap gulita. Entah ke mana cahaya dari lentera dan perapian. Dalam pekatnya hitam, sesuatu bergulung di langit-langit kamar, sesuatu yang putih. Tanpa disadari, kabut turun di kamar itu. Dari putih yang mengaburkan, sosok yurei wanita itu muncul samar-samar.

Suami-istri itu masih tertidur dalam futon, sementara hantu itu melayang mendekati mereka, menatap keduanya yang masih dalam buaian lelap–tidak, ia hanya menatap sang istri, lamat-lamat, amat dekat. Rambut hitam panjangnya menjuntai ke wajah Istri Iyo.

“Iyoooo-san,” desisnya. Wajahnya dekat dengan wajah sang istri. Cukup dekat sehingga bergerak sedikit saja, hidung mereka mungkin akan bersentuhan. Matanya yang dingin dan kosong menatap pelupuk mata sang istri.

Istri Iyo mengerang dalam tidur, tidak juga terbangun.

Yurei itu mundur, menjauh. Ia terkekeh pelan, “Iyoo…. Iyooo-san….”

Ia merayap di dekat kaki futon. Tangan mayatnya yang dingin dan pucat bergerak menyentuh kaki Istri Iyo, mengusapnya. Pelan dan beku.

Dingin menjalar, menusuk tulang. Sang istri membuka matanya perlahan, melihat kabut. Ia melirik kakinya yang dingin luar biasa.

” Iyooo-san…,” bisik hantu itu, memiringkan kepalanya, menatap balik Istri Iyo. “…. Iyo? Salah….”

Iyo terbangun sepenuhnya.

Hantu itu menyeringai lebar. Terlalu lebar! “Mayu-chan…!”

Sang istri menjerit horor, meraih kotak kayunya hanya untuk melemparnya kembali ke hantu itu. Akal sehatnya hilang.

Suaminya terbangun oleh suara ribut. Ia melihat istinya histeris di pojok ruangan dan yurei wanita yang mengapung di langit-langit.

Hantu itu tertawa, lalu menghilang tersapu angin yang tiba-tiba datang di dalam ruangan. Kabut menghilang dalam kegelapan kamar.

Sang istri meringkuk, gemetaran di sisi ruangan. Ia bersumpah tidak akan tinggal di tempat itu sehari lebih lama lagi. Semakin dilawan, hantu itu semakin nekat. Entah apa yang bisa diperbuat hantu itu selanjutnya.


“Sudah semua?” tanya Suami Iyo.

Istrinya mengangguk. “Semoga,” jawabnya. Ia menoleh, menatap rumahnya untuk terakhir kalinya. Sang istri tersenyum, tertawa kecil.

“Selamat tinggal lagi, wahai kau, yang kini hanya sesosok yurei. Kau terlalu berharap bisa mendapatkan apa yang kau mau. Kuberitahu, ya. Cobalah sekali lagi,” ucapnya. “Itu pun, kalau kau bisa menemukanku lagi.” Ia tertawa geli, dan pergi menyusul suaminya yang tengah bersiap-siap.

Setelah kepergian pasangan Iyo, tidak ada yang pernah melihat yurei itu lagi. Tidak ada pula yang tahu siapa wanita itu dan apa yang ia inginkan. Mungkin ia berusaha mengejar Iyo Mayu, yang keberadaannya juga tidak diketahui.

Iyo Mayu menyiapkan ofuda itu dan mempelajari pengusiran hantu.

Iyo Mayu mengetahui sesuatu, tetapi ia menolak memberitahu.

Dan saat terakhir kalinya melihat rumahnya, sebelum pergi, Iyo Mayu tidak tersenyum. Ia menyeringai. Ia sudah menang.


CATATAN: Pernah dirilis pada Wattpad pada tahun 2016 atau 2017. Beberapa perubahan dari kisah asli, antara lain nama sang istri tidak dikenali dan beberapa adegan yang ditambahkan.

SUMBER

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s